Bawa Besi Sok Motor, Warga Way Khilau Diduga Ancam Nizam, Kasus Siap Dilaporkan ke Polisi

Pesawaran, Mediasiber1 – Seorang warga Desa Penegahan, Dusun Pemuluan, Kecamatan Way Khilau, Kabupaten Pesawaran, bernama Nizam Muhrodi (30) mengaku mendapat ancaman dan intimidasi dari warga setempat bernama Joni Setiawan alias Kasim. Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (12/3/2026) sekitar pukul 17.30 WIB.
Kepada awak media, Nizam yang didampingi oleh ayah mertuanya, Ruslan, menjelaskan bahwa insiden tersebut sempat membuat situasi memanas karena terduga pelaku datang membawa besi bekas sok motor dan diduga hendak menyerangnya.
“Anak mantu saya mendapat ancaman dari Joni Setiawan alias Kasim. Dia datang membawa besi sok motor. Untung ada warga yang melerai, kalau tidak kami tidak tahu bagaimana nasib anak mantu saya,” ujar Ruslan.
Nizam menjelaskan, kejadian tersebut berawal pada Selasa malam (10/3/2026) ketika dirinya kedatangan seorang teman bernama Fengki yang merupakan warga Tanjung Kemala, Rantau Tijang, Kabupaten Tanggamus.
Tidak lama kemudian datang Asep membawa sepeda motor Honda Vario ke halaman rumahnya. Saat itu Fengki meminjam motor milik Asep tersebut, namun Nizam mengaku tidak mengetahui peristiwa peminjaman tersebut karena berada di dalam rumah.
Namun setelah motor tersebut tidak kembali, Asep bersama pamannya, Joni Setiawan, kemudian meminta Nizam mengganti motor tersebut dengan nilai Rp8 juta.
“Saya tidak tahu sama sekali kalau motor itu dipinjam. Tiba-tiba mereka datang dan meminta saya mengganti motor tersebut,” jelas Nizam.
Menurut Nizam, pada Kamis sore (12/3/2026) Joni Setiawan kembali datang sambil membawa besi sok motor dan diduga hendak memukul dirinya.
Beruntung warga sekitar segera melerai sehingga bentrokan dapat dihindari.
“Untung dipisahkan tetangga. Kalau tidak dibantu warga, saya tidak tahu lagi nasib saya,” kata Nizam.
Akibat kejadian tersebut, Nizam mengaku merasa takut dan untuk sementara waktu tinggal di rumah mertuanya di Desa Paguyuban, Kecamatan Way Lima, demi alasan keamanan.
“Sekarang saya tinggal sementara di rumah mertua karena merasa tidak aman,” ujarnya.
Nizam dan keluarga mengaku telah melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Kedondong. Namun pihak kepolisian awalnya menyarankan penyelesaian melalui musyawarah desa atau rembuk pekon.
Meski demikian, pihak Pemerintah Desa Penegahan justru menyarankan agar persoalan tersebut dilaporkan secara resmi ke pihak kepolisian.
“Kami ingin mencari perlindungan. Anak saya, mantu, dan cucu merasa tidak aman, jadi kami akan melaporkan ini ke pihak berwajib,” tegas Ruslan.(Red)





